BONTANG, 23 Oktober 2026 – Suasana lapangan SMP Negeri 9 Bontang tampak begitu meriah dan penuh antusiasme pada Jumat (23/10/2026). Sekolah tersebut menggelar pementasan Mini Teater yang menampilkan berbagai cerita sarat makna dan pesan moral, terkhusus mengenai bahaya perundungan (bullying) serta pentingnya saling menghargai sesama siswa.
Acara dibuka secara resmi oleh Bu Musni. Bertindak sebagai pemandu acara (MC), Adeva memandu jalannya kegiatan sekaligus membacakan narasi bertema “Literasi untuk Kesejahteraan Kita Semua”. Usai pembukaan, Kepala SMP Negeri 9 Bontang, Ibu Lilin Indriawati, M.Pd., memberikan sambutan serta menyampaikan pidato apresiasi atas kreativitas para siswa yang terlibat dalam seni peran ini.
Penampilan Kelas 8C: “Luka di Balik Senyuman”
Pertunjukan teater diawali oleh penampilan dari kelas 8C yang membawakan drama berjudul Luka di Balik Senyuman.
Kisah bermula saat Raka dan kawan-kawannya sedang berkumpul. Situasi memanas ketika Al mengucapkan perkataan mengejek (“dempul”) kepada geng Lia. Lia yang tidak terima mendatangi geng Raka untuk menuntut penjelasan.
Di sisi lain, Dwi tampak menyusuri lorong sekolah dan berpapasan dengan geng Lia. Teman-teman Lia mendadak menghadang jalan Dwi. Maya mengambil makanan tempe milik Dwi lalu melemparnya, yang kemudian diinjak oleh Rizki hingga Dwi menangis bersedih.



Tanpa mereka sadari, Guru BK, Bu Nadira, menyaksikan kejadian perundungan tersebut dari kejauhan. Bu Nadira langsung memanggil Maya, Lia, dan Rizki ke ruang BK, serta mengajak Dwi untuk menceritakan kronologi kejadian secara jujur. Di ruang BK, ketiga siswa tersebut menyadari kesalahan mereka dan menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada Dwi.
Melalui pertunjukan ini, kelas 8C menyatukan pesan moral mendalam: Jangan pernah mem-bully sesama teman. Lebih baik saling menghargai daripada menciptakan permusuhan.
Penampilan Kelas VIII A: “Topeng di Balik Layar”
Pementasan dilanjutkan oleh kelas VIII A yang menyuguhkan drama emosional berjudul Topeng di Balik Layar.
Kisah ini menceritakan duka mendalam atas kepergian Fiola, yang meninggal dunia akibat tak lagi sanggup menahan beban hidup dan tekanan yang dipendamnya sendiri. Bu Zahra menyampaikan kabar duka tersebut di hadapan kelas dengan suara bergetar dan menahan tangis.



Teman-teman sekelasnya tersentak dan tidak menyangka bahwa Fiola telah tiada. Kejadian tersebut membawa mereka pada perenungan mendalam bahwa masalah tidak seharusnya dipendam seorang diri. Dalam suasana penuh keheningan, bayangan sosok Fiola hadir kembali untuk terakhir kalinya untuk menyampaikan pesan terakhir bagi teman-temannya: “Jangan menyakiti hati orang lain agar tidak ada lagi rasa sakit yang terpendam.”
Penampilan Kelas VIII B: “Kelas Tanpa Julukan”
Sebagai penutup pertunjukan, kelas VIII B tampil membawakan drama bertajuk Kelas Tanpa Julukan.
Awal cerita disampaikan oleh Sri Wahyuni mengenai Fathar yang sudah lama tidak masuk sekolah. Tak lama kemudian, Bu Bunga masuk ke kelas dan memberikan sebuah surat kepada Rama untuk dibacakan di depan teman-temannya. Isi surat tersebut mengetuk hati Hamdan dan gengnya, hingga mereka akhirnya mendatangi Fathar dan meminta maaf atas perbuatan mereka selama ini.
Pesan moral sederhana namun bermakna kuat disampaikan dalam pertunjukan kelas VIII B ini: “Panggil aku dengan namaku, bukan dengan julukanku.”



Kegiatan Mini Teater SMP Negeri 9 Bontang ini berlangsung sukses dan mendapat apresiasi hangat dari seluruh warga sekolah. Diharapkan nilai-nilai positif yang disampaikan melalui tiap lakon drama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari demi menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai.