Pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) khusus kesehatan mental digelar dengan penuh antusiasme. Kegiatan ini didampingi langsung oleh Ibu Arwati, Kak Mia, Kak Wilson, Kak Ningrum, serta Kak Selvi, yang membimbing para peserta untuk lebih peka terhadap kondisi psikologis di sekitar mereka.
Sesi materi diawali dengan pemahaman pentingnya self-awareness. Generasi Z saat ini rentan menghadapi perasaan ekstrem, seperti gangguan tidur, luka psikologis akibat bullying, hingga tekanan dari berbagai masalah nasional. Lewat materi ini, peserta diajarkan cara mendeteksi perubahan perilaku teman sebaya secara dini melalui indikator berikut:
- Emosi & Perilaku: Menjadi lebih pendiam, mudah marah, menarik diri dari pergaulan, serta kehilangan minat pada hobi.
- Fisik & Kebiasaan: Perubahan pola tidur, penurunan atau kenaikan nafsu makan drastis, hingga munculnya keluhan gangguan fisik tanpa penyebab medis yang jelas.



Sebagai langkah penanganan, peserta dibekali metode P3LP / 3M:
- Memperhatikan: Melakukan observasi lingkungan sekitar dengan rasa empati.
- Mendengarkan: Menjadi pendengar yang baik, benar, dan hadir secara utuh tanpa menghakimi.
- Menghubungkan: Membantu menghubungkan korban ke layanan profesional atau orang dewasa terpercaya.
Pelatihan ini menekankan pentingnya memberikan pertolongan sesuai keadaan tanpa memikul seluruh beban masalah sendirian. Peserta diingatkan mengenai batasan diri yang tegas: “Kamu adalah teman, bukan terapis.” Pendekatan ini diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari aksi bullying.
Gangguan mental merupakan kondisi yang dapat disembuhkan jika ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, membangun batasan diri yang sehat (healthy boundaries) menjadi kunci agar aksi peduli tidak mengorbankan kesehatan mental diri sendiri.



Kegiatan ini ditutup dengan pesan mendalam bagi seluruh peserta:
“Jadilah pahlawan bagi dirimu dan temanmu. Mulai hari ini, mari kita lebih peka dan lebih peduli untuk bicara tentang luka yang tak terlihat.”